Pendidikan Politik pada Pemilukada Kandidat DKI1

4 Sep

PoliticaWave.Com – Persaingan antar kedua kandidat DKI1 menuju hari pemilukada, 20 September 2012 semakin ketat. Masing-masing tim kampanye pun berjuang untuk menambah jumlah suara dari para pemilih, yang pada waktu pemilukada putaran pertama memilih kandidat lainnya.

Masyarakat mengharapkan persaingan antar kedua kandidat DKI1 tersebut dapat berlangsung secara fair. Namun ternyata dengan semakin mendekati hari pencoblosan, suasana pun semakin panas.

Tim kampanye pasangan Fauzi Bowo-Nachrowi pun melaporkan pasangan Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama karena melakukan tindakan kampanye di luar masa kampanye, berupa penayangan iklan di beberapa media televisi.

Sedangkan para pendukung Joko Widodo-Basuki Tjahaja Purnama atau sering di sebut Jokowi-Ahok, pun tidak ketinggalan membalas tindakan tersebut dengan membuat gerakan Anti Foke dan menyebarkan informasi-informasi kesalahan atau keburukan Foke di berbagai media, termasuk media sosial.

Tindakan para pendukung/simpatisan/tim kampanye dan tim sukses masing-masing tersebut sebetulnya justru dapat merugikan kandidat yang ada. Karena ketika salah satu kandidat DKI1 di ‘jelek-jelek’kan atau di cemarkan nama baiknya, maka kandidat DKI1 lainnya juga akan terkena dampak yang sama. Dan akibatnya semua kandidat akan terlihat jelek di mata masyarakat.

Padahal, daripada melakukan tindakan pen’jelek’an atau pencemaran nama baik, ada satu hal yang perlu menjadi perhatian semua pihak, yaitu bagaimana proses demokrasi di Jakarta ini berjalan  lancar, dengan memberi kesempatan bagi warga negara Indonesia, khususnya warga DKI menggunakan hak suara nya dan menjadi satu pelajaran dalam pendidikan politik untuk bangsa Indonesia, terutama warga Jakarta.

Bahwa pendidikan politik untuk merasakan, menjalani dan mendapatkan makna demokrasi, merupakan persoalan yang belum banyak di sentuh oleh kandidat dan tim sukses atau kampanye dari pemilukada di berbagai wilayah di Indonesia.

Kegembiraan sebagai simpatisan/pendukung yang kemudian menjadi euforia untuk kemenangan salah satu kandidat, menjadi satu-satunya tujuan yang ingin di capai dalam proses demokrasi yang sedang berjalan. Dan akhirnya dalam proses demokrasi tersebut, pendidikan politik yang berbasis pada implementasi hak politik setiap warganegara pun termarginalkan. (pw/diyah)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: